Dari zaman saya kecil dulu, saya sudah tau bahwa ada stigma yang melekat pada orang-orang Jakarta: individualis, egois, pokoknya yang -is -is lah... Tapi karena dulu saya tidak banyak ke luar rumah, saya tidak percaya. Paling saya ke Jakarta kalau mau sekolah saja, tapi orang-orang yang saya jumpai tidak menunjukkan sifat-sifat tersebut, apalagi teman-teman saya... amat sangat solider.
Jadi saya bilang stigma itu salah..
Namun belakangan ini saya agak setuju dengan stigma tersebut, apalagi saat saya menemukan kenyataan setiap saya pulang dan berangkat kerja dengan busway.
Dua bulan ini, busway jadi kendaraan saya. dan saya melihat betapa brutalnya orang-orang Jakarta saat berebut busway. Mereka berdasi, mereka menenteng-nenteng BB dan laptop, mereka berpenampilan terpelajar. Tapi saat naik bus, jangan ditanya, ga segan-segan mereka mendorong satu sama lain agar merekalah yang bisa masuk busway, atau dapat tempat duduk. Sikut pun terkadang dikerahkan. Yang penting dia bisa naik bus trans, ga peduli sama orang lain, ga peduli sama jalan licin, ga peduli sama ibu-ibu setengah baya yang jatuh karena terdorong (it really happened several weeks ago).
Ok, saya sih melihatnya gak ada masalah. Cuma ngedumel, tapi sebentar. Tidak seperti kejadian pagi ini yang membuat saya uring-uringan sepanjang perjalanan menuju kantor.
Begini ceritanya,,
seperti biasa, saya naik busway dari Halte Tugas. Kebetulan busnya masih kosong waktu di Tu gas, jadi saya dapat tempat duduk dekat pintu.
Lama-lama, busway jadi makin penuh dan sesak. Sesampainya di halte Matraman, bus tambah penuh lagi. Saat itulah saya melihat sebuah keluarga dengan 2 anak kecil. Yang satu digendong bapaknya, yang satu dipegangi ibunya biar tidak jatuh.
kebetulan mereka berdiri di dekat tempat duduk saya...
Karena ga tega melihat dua anak kecil itu, saya bilang ke si adik "Dek, duduk sini aja ya.." lalu saya berdiri.
Dan belum sempat si anak kecil itu duduk, tiba-tiba dari belakang ada ibu-ibu gendut (maap), masih muda, menyerobot dan duduk di tempat duduk yang saya naiki.
lalu ibu dari anak kecil itu memandang saya, speechless.. apalagi saya.. Lalu saya bilang ke si bu gendut (maaf kalau agak kasar, karena dia benar-benar kelewatan), "Bu, maaf, tempat duduk ini untuk adik ini"
Tapi si ibu gendut itu cuek, dan malah tidur.
AKU SEBALLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL
dan waktu dia melek, dia melihat si adik kecil itu terhuyung-huyung karena susah menjaga keseimbangan, tapi si bu gendut itu cuma kedap-kedip, senyum-senyum. Saya juga tidak yakin dia waras atau tidak.
Dan sepanjang jalan dari halte Matraman ke Dukuh atas itulah saya ngedumel dalam hati, sementara si ibu gendut itu duduk di depan saya dengan santainya. Oya, si adik kecil akhirnya dapat tempat duduk lain yang ditawarkan orang lain untuknya. Ingin sekali rasanya saya menonjok si ibu itu. Memang anarkis, tapi ini sudah kelewatan...
beberapa menit berlalu, akhirnya saya sampai di Dukuh atas. Karena masih tidak terima dengan perlakuan aneh si Ibu Gendut tadi, saya melakukan perbuatan yang jahat. Beruntung saat itu saya sedang memakai sepatu yang haknya tinggi dan agak lancip.. So??????????? saya injak kakinya... hehehhehe. Dan saat dia marah-marah dan mengutuki saya, saya lari menyusuri jogging tract menuju ke senayan.. hehe..
Bu Gendut, siapapun diri anda, saya benci anda..
dan saya tidak tau apakah tempat duduk di busway bisa membeli rasa kemanusiaan dan kesolidaritasan seseorang?
Jakarta emang gila...