Hai, jumpa lagi dengan Riana,, hehe. Kali ini saya kepingin menulis sesuatu yang berhubungan sama pekerjaan saya ah, biar saya gak dibilang makan gaji buta-buta amat, hehehe... :p
jadi begini, teman-teman. kemarin saya tergelitik sama pernyataan seorang dokter yang bilang: "Siap Menikah harus siap segala-galanya. Termasuk siap punya anak, dan siap juga kalau anakmu nanti lahir dengan kekurangan fisik"
Setelah dipikir-pikir benar juga sih kata dokter itu, apalagi setelah saya menjumpai beberapa kasus kelainan pada bayi yang baru lahir.
1. Kasus pertama, ini kasus yang baru saja saya terima. Seorang bayi perempuan yang baru lahir menderita hydrocephalus karena tokso. Tokso tersebut bawaan dari mamanya, yang kebetulan juga memiliki tokso. Kemarin Ibunya pontang-panting mencari obat Zulfadiazine yang menurut dokter adalah obat paling ampuh untuk mengobati tokso. Sayangngnya, sewaktu si Ibu menanyakan ke produsen obat Zulfadiazine tersebut, produsen itu mengatakan bahwa sementara mereka tidak memproduksi atau mendistribusikan Zulfadiazine.
2. Seorang bayi berumur satu bulan yang harus mengeluarkan feses dari anus dan vaginanya nya karena colon-nya bermasalah. Dokter mendiagnosa kemungkinan bahwa colonnya bocor atau bercabang.
3. Dua orang bayi yang lahir dengan kelainan genetika. bayi yang satu didiagnosa menderita Beta Thalasemia Major, yaitu sebuah kelainan darah genetis, yang mengharuskan bayi tersebut menjalani transfusi darah setiap bulannya. Dokter menyebutkan kalau penyakit tersebut bisa disembuhkan dengan transplantasi sumsum tulang belakang, namun harus menunggu si bayi besar dulu dan biayanya.. WOW.. gak main-main mahalnya. Bayi yang lain lahir dengan kelainan kromosom. Bayi itu didiagnosa memiliki 22 q 13.3p deletion syndrome, dan development delay syndrome.
Dan masih ada beberapa kasus lainnya.
Memang saya pernah membaca kalau kelainan pada bayi yang baru lahir bisa disebabkan karena berbagai faktor, diantaranya mengkonsumsi obat pada saat hamil. oke, kalau memang itu faktornya, mungkin masih bisa dikontrol. Tapi bagaimana dengan kelainan kromosom? Karena kata dokter, untuk kasus yang ketiga, bayi tersebut menderita kelainan genetis karena, bahasa awamnya, ada ketidakcocokan antara gen ayah dan ibu mereka.
Nah lo, kalau sudah seperti ini bagaimana mengontrolnya? Saat pacaran, dan saat memikirkan pernikahan, apakah seseorang sempat memikirkan apakah gen-nya dan gen pasangannya cocok atau tidak? Jujur saja saya tidak pernah terpikir seperti itu kalau tidak bekerja di sini. Mungkin hal tersebut bisa diketahui secara dini yaitu dengan melakukan medical check up sebelum pernikahan. Mungkin,, saya juga belum tau. Tapi berapa banyak sih orang Indonesia yang melakukan medical check up sebelum menikah?
Lagipula, kalau dari medical check up ketahuan ada kemungkinan ketidakcocokan gen, apakah pasangan yang sudah mau menikah tersebut rela memutuskan hubungan keduanya? (btw, bahasa gw ngeri banget yak, hehe)
Nah, jawabannya sih sebenarnya ada di tangan teman-teman yang kebetulan mampir dan membaca blog saya ini, hehe.. Tapi buat yang memang sudah mau nikah, jangan takut cuma gara-gara blog saya. Saya menulis blog ini karena saya tergelitik dengan ucapan dokter, seperti yang saya bilang di atas: Siap Menikah: Siap Punya Anak, dan Siap Juga Kalau Anak Terlahir dengan Ketidaksempurnaan Fisik. Jadi ada baiknya buat teman-teman melakukan medical check up dulu sebelum menikah.
Tapi tenang saja, dokter yang berbicara sama saya itu juga mengatakan sisi relijiusnya: Meskipun fisik seseorang tidak sempurna, pasti ada kesempurnaan lain yang dimilikinya"
Dan saya setuju dengan dokter itu!! :)
Oya, dari pengalaman tersebut ada juga sih pelajaran yang bisa saya ambil:
1. meskipun saya gak cantik-cantik banget (haha), dan ga pinter2 banget, tapi saya bersyukur dilahirkan sempurna
2. setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. kalau seseorang memiliki kekurangan fisik, pasti ada kelebihan lain yang diberikan Tuhan
3. kayaknya bukan cuma untuk nikah aja deh yang butuh persiapan mental, tapi untuk memutuskan segala sesuatu butuh persiapan mental untuk menghadapi semua resiko
4. apa ya??? gonna think about it and get back to you soon, hehe
-Veronica-
Jumat, 29 April 2011
Rabu, 06 April 2011
Facebook: Maya dan/atau Nyata
Tulisan ini muncul karena percakapan berikut ini:
A: Eh, kenapa muka lo sedih gitu? barusan ketawa ampe ngakak-ngakak?
B: Patah hati (menjawab dengan setengah hati)
A: Kok bisa? Perasaan tadi lo seneng-seneng aja?
B: Iya,mantan gw udah 'in relationship', udah mau merit pula
A: Kok lo tau? emang kapan ketemu mantan lo?
B: Dari facebook
A: Oooooo...
yups, itu percakapan yang saya dengar baru-baru ini dan membuat saya merenung, cieilah.. merenung.. haha.. oke ralat, percakapan ini membuat saya ingin meng-sms Mark Zuckerberg dan bertanya apa sewaktu dia menciptakan FB, dia sempat berpikir kalau selain sebagai hiburan, FB juga bisa membuat seseorang patah hati?
tentunya kalau ada orang patah hati karena FB, bukan salah Mas Mark yang menciptakan Facebook. Bukan juga salah si B yang punya Facebook, bukan juga salah mantannya B yang mengganti status di facebook.
Jadi salah siapa??
Nah, saya juga bingung. Tapi dari kejadian itu saya jadi belajar, dan akhirnya membuat tulisan ini sebagai refleksi.
Tidak ada yang salah dengan facebook. saya juga salah satu penggemar facebook. tiap hari saya buka facebook. pernah saya mencaoba pantang facebook, tapi dari sekian kali mencoba, yang berhasil hanya satu kali, hehe. dan saya akui saya juga pernah dibuat sedih karena facebook, dibuat cemburu karena facebook, dibuat ingin memarahi orang karena facebook. saya pernah mengalaminya
dan kadang saya merasa bodoh. Facebook kan dibuat untuk hiburan. Mendekatkan mereka yang jauh. Mulia bukan? Bukan.. hehee. ya syukur-syukur kalau ada yang menggunakan facebook untuk memperlancar bisnis, seperti misalnya butik online. that's great!
nah, kalau tiba-tiba facebook membuat seseorang merasa sedih, merasa patah hati, merasa marah, merasa cemburu, dan merasakan perasaan-perasaan negatif lainya, apakah seseorang itu rugi?
menurut saya sih iya. Sekarang saya sedang belajar untuk mengingat bahwa facebook adalah dunia maya. Artinya, dunia facebook adalah dunia yang akan hilang ketika laptop atau komputer dimatikan, atau kalau menu FB di handphone ditutup. Idealnya, perasaan-perasaan yang ada saat kita membuka facebook juga bersifat maya, dan idealnya lagi akan hilang begitu menu FB ditutup.
Tp kenyataan kadang-kadang berbeda dengan idealisme, cieilah.. hehehe.. kadang rasa yang ada saat membuka FB berlanjut sampai FB itu ditutup. kalau menurut saya, selama perasaan yang berlanjut itu adalah perasaan yang positif, itu oke-oke saja. Memang tujuan FB dibuat adalah sebagai hiburan, bukan? setidaknya menurut saya.. hehe.
Namun, kalau perasaan-perasaan yang berlanjut itu adalah perasaan negatif a.k.a sedih, cemburu, marah, dkk,, ya... sebenarnya itu hak yang merasakan sih... tidak ada orang yang berhak mengatur perasaan orang lain. tetapi, saya pribadi menyayangkannya. untuk apa bersedih karena dunia maya, sedangkan dalam dunia nyata kita bisa berbahagia? untuk apa merasa marah karena dunia maya sedangkan kita bisa merasa tenteram di dunia nyata? for sure,kalau memang terkadang FB memunculkan perasaan-perasaan yang negatif, bagi saya ada yang perlu diingat, bahwa disekitar saya di dunia nyata, ada orang-orang yang dapat menawarkan perasaan-perasaan positif. Jadi buat apa tenggelam dalam perasaan-perasaan negatif yang semu, yang di dapat dari dunia maya yang... semu...
-Veronica-
A: Eh, kenapa muka lo sedih gitu? barusan ketawa ampe ngakak-ngakak?
B: Patah hati (menjawab dengan setengah hati)
A: Kok bisa? Perasaan tadi lo seneng-seneng aja?
B: Iya,mantan gw udah 'in relationship', udah mau merit pula
A: Kok lo tau? emang kapan ketemu mantan lo?
B: Dari facebook
A: Oooooo...
yups, itu percakapan yang saya dengar baru-baru ini dan membuat saya merenung, cieilah.. merenung.. haha.. oke ralat, percakapan ini membuat saya ingin meng-sms Mark Zuckerberg dan bertanya apa sewaktu dia menciptakan FB, dia sempat berpikir kalau selain sebagai hiburan, FB juga bisa membuat seseorang patah hati?
tentunya kalau ada orang patah hati karena FB, bukan salah Mas Mark yang menciptakan Facebook. Bukan juga salah si B yang punya Facebook, bukan juga salah mantannya B yang mengganti status di facebook.
Jadi salah siapa??
Nah, saya juga bingung. Tapi dari kejadian itu saya jadi belajar, dan akhirnya membuat tulisan ini sebagai refleksi.
Tidak ada yang salah dengan facebook. saya juga salah satu penggemar facebook. tiap hari saya buka facebook. pernah saya mencaoba pantang facebook, tapi dari sekian kali mencoba, yang berhasil hanya satu kali, hehe. dan saya akui saya juga pernah dibuat sedih karena facebook, dibuat cemburu karena facebook, dibuat ingin memarahi orang karena facebook. saya pernah mengalaminya
dan kadang saya merasa bodoh. Facebook kan dibuat untuk hiburan. Mendekatkan mereka yang jauh. Mulia bukan? Bukan.. hehee. ya syukur-syukur kalau ada yang menggunakan facebook untuk memperlancar bisnis, seperti misalnya butik online. that's great!
nah, kalau tiba-tiba facebook membuat seseorang merasa sedih, merasa patah hati, merasa marah, merasa cemburu, dan merasakan perasaan-perasaan negatif lainya, apakah seseorang itu rugi?
menurut saya sih iya. Sekarang saya sedang belajar untuk mengingat bahwa facebook adalah dunia maya. Artinya, dunia facebook adalah dunia yang akan hilang ketika laptop atau komputer dimatikan, atau kalau menu FB di handphone ditutup. Idealnya, perasaan-perasaan yang ada saat kita membuka facebook juga bersifat maya, dan idealnya lagi akan hilang begitu menu FB ditutup.
Tp kenyataan kadang-kadang berbeda dengan idealisme, cieilah.. hehehe.. kadang rasa yang ada saat membuka FB berlanjut sampai FB itu ditutup. kalau menurut saya, selama perasaan yang berlanjut itu adalah perasaan yang positif, itu oke-oke saja. Memang tujuan FB dibuat adalah sebagai hiburan, bukan? setidaknya menurut saya.. hehe.
Namun, kalau perasaan-perasaan yang berlanjut itu adalah perasaan negatif a.k.a sedih, cemburu, marah, dkk,, ya... sebenarnya itu hak yang merasakan sih... tidak ada orang yang berhak mengatur perasaan orang lain. tetapi, saya pribadi menyayangkannya. untuk apa bersedih karena dunia maya, sedangkan dalam dunia nyata kita bisa berbahagia? untuk apa merasa marah karena dunia maya sedangkan kita bisa merasa tenteram di dunia nyata? for sure,kalau memang terkadang FB memunculkan perasaan-perasaan yang negatif, bagi saya ada yang perlu diingat, bahwa disekitar saya di dunia nyata, ada orang-orang yang dapat menawarkan perasaan-perasaan positif. Jadi buat apa tenggelam dalam perasaan-perasaan negatif yang semu, yang di dapat dari dunia maya yang... semu...
-Veronica-
Langganan:
Postingan (Atom)