Liburan Lebaran kemarin benra-benar saya manfaatkan untuk libuuuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr... ya tidur, ya masak, ya jalan-jalan, ya nonton.
film yang saya tonton ini berjudul Tanah Surga Katanya. Waktu diajak nonton oleh adik saya, saya tidak terlalu tertarik. Apalagi ketika sampai di meja pembelian tiket saya melihat nyaris tidak ada yang menonton. tidak sampai 10 persen bangku yang terisi dari semua bangku yang ada di studio tersebut.
Memang sih waktu itu hari Lebaran pertama, jam 9 malam pula. Tapi bioskop masih ramai kok, dan ketika saya teliti, sebagian besar pengunjung lain lebih memilih untuk menonton Step Up, Expendables 2, dan satu film nya lagi saya lupa.
Makin malas saya menonton. secara tau sendiri kan film Indonesia akhir-akhir ini rada-rada kurang mendidik, maksud saya film-film yang bergenre hantu-hantu seksi (mencibr tanda tak seksi, haha)
tapi ternyata filmnya bagus. film ini bercerita tentang nasib penduduk Indonesia di pedalaman Kalimantan Barat yang berbatasan darat langsung dengan Indonesia. Pada sebagian besar alur cerita, film ini dipenuhi adegan-adegan lucu dan membuat penonton tertawa: tertawa miris. menertawakan ketidakadilan pemerintah Indonesia masa kini yang berdampak pada rakyat di pedalaman.
Contoh adegan lucu tapi miris:
1. anak-anak SD di tempat itu mengira lagu kebangsaan Indonesia adalah Kolam Susu
2. Ketika hasil ujian diberikan, hampir semua murid di kelas 4 mendapatkan nilai 0, hanya 2 yang memperoleh nilai lebih dari 0, itupun nilainya 4 dan 2.
3. 2 adegan yang memperlihatkan seorang guru yang terjatuh saat mengajar karena kakinya masuk ke dalam lantai kayu yang sudah rapuh.
Kejadian-kejadian tersebut sangat bertolak belakang dengan keadaan di Malaysia. Malaysia diceritakan lebih makmur, dan membuat orang Indonesia di perbatasan bekerja di Malaysia dan pindah kewarganegaraan.
Namun, film itu juga mengajarkan kita untuk melihat Indonesia dari sudut pandang pahlawan. Di film tersebut juga diceritakan tentang seorang peluang yang dulu ikut berjuang mempertahankan perbatasan Kalimantan Barat itu dari Malaysia. Kakek bekas peuang itu sakit jantung dan sering kambuh. tadinya ia tinggal bersama dua cucunya, laki-laki dan perempuan. Namun anak dari kakek itu yang juga merupakan ayah dari kedua cucunya, membawa si anak perempuan ke Malaysia. Sang kakek dan anak lelaki juga diajak. mereka dianjikan fasilitas yang lebih baik di Malaysia. Sekolah dan mainan yang bagus untuk sang cucu, dan perawatan kesehatan yang lebih baik untuk sang kakek.
Namun, sang kakek menolak. Ia tetap bersikeras tingggal di perbatasan dan menolak menjadi warga negara Malaysia.
sampai akhir hayatnya, sang kakek tetap menasehati cucu laki-lakinya agar tetap mencintai Indonesia, apapun yang terjadi.
Yang membuat saya lebih terharu lagi, sang kakek mengatakan hal tersebut saat menjelang ajal, di perahu yang membawa mereka ke kota. Beliau meninggal karena sarana kesehatan di perbatasan nyaris tidak ada. hanya ada 1 dokter yang praktik di sana. tidak ada rumah sakit, adanya hanya di kota.
yang jelas, film ini amat sangat bagus sekali. Saya juga bingung kenapa film sebagus ini sepi penonton. Apa marketing-nya yang kurang gencar? atau apakah rakyat Indonesia malas menonton film Indonesia karena kebanyakan film Indonesia saat ini adalah film tidak bermutu? (maksud: film hantu seksi).
tapi meskipun demikian, kita harus tetap cinta Indonesia bukan?
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar